(Migrasi dari tompr2.multiply.com)

(untuk AM)

Sebuah hari ketemukan dan ia bersaksi bahwa
ada gumam berdendang pada orang-orang di jalan

Seperti konser di dalam hati yang riuh
seperti akhirnya orang temukan tempat berlabuh

(pada apa cekam kesepian mungkin dilarikan
atau sandaran-bayang mana getir rasa bisa
sebentar rebahkan penatnya)

Mereka yang biasa memberi harga pada menggigitnya sepi
tahu bahwa bahkan pada sepatah kata atau sedetik berisik
semua tanda harus lurus setia pada mimpi tentang yang abadi

Maka atas bingarnya pesta, lesatnya lintas kota,
jalan layang, atau deadline untuk terkabulnya angan …
kami sama ingin agar kau :
ajari kami caranya kalahkan diri, merajut hari
ajari kami gimana menghalau sunyi yang datang
dan datang lagi

Dalam pernik distorsi warna warni yang samar membalut
kaubetik dari peluk gitarsih perih yang melangut,
geliat jiwa orang-orang yang merdeka,
atau sedu sedan dalam remang-remang cahaya

Merentang dari warisan gelora suara
hingga yang psychedelic
dengan tingkah debam drum
dan tangan yang mencabik

Akhirnya seperti musim yang mengelupaskan cerita
yang datang dan yang pergi telah menjadi arti
Jangan lagi biarkan kau tercerai karena impian kau bagi
agar bahanamu bisa terlantun senantiasa
dengan satu jiwa.

28-03-2004

(Migrasi dari tompr2.multiply.com)

: PM

Di sebuah art gallery
Kau mengajakku untuk segera pergi
ketika tak kau temukan rupa kepastian
yang dengannya selaksa kenangan lama bisa
kau jadikan hiasan rumah kita.
Rumah kita, nanti.
Di awan.

"Itu hanya improvisasi," katamu.

Tapi selalu kubayangkan
betapa ‘kan lebih abadi kalau semua dekorasi
kita bingkai dengan impian sendiri

Dan di sepanjang jalan kita sama lihat semua pilihan rawan
Lanskap art-deco yang bertingkah dengan zaman
Kain lukisan pemandangan dengan latar warna hitam
Jajaran boneka kesepian di jendela pajang

Hari keburu jadi muram
Aku tak tahu kau telah tentukan pilihan
Diam-diam

Tubuh kita
adalah sebuah restoran tua
Aku tahu kau tak pernah ragu
untuk segala hidangan-hidup pada menu
meskipun aku tahu benar
kau tak pernah sungguh lapar

Kau bilang, "Hanya pengisi hambar."
Tapi jadi aku yang selalu kangen

Lalu aku berjalan seperti dalam slow motion
ketika kusadari bahwa akhirnya
semua hanya kenangan basi
foto-foto lama
dalam gradasi warna-warna sepia

1997 – 1999