Saya tidak habis pikir dengan orang yang berencana mendatangkan Miyabi ke Indonesia. Apakah ia bodoh, sekedar naif, atau jangan-jangan ia adalah sebuah boneka yang dimainkan seorang dalang ? Maksud saya, kenapa sampai ada orang yang tidak bisa memperhitungkan bahwa reaksi massa di Indonesia akan seperti sekarang ini ?

myb2 Ini jadi mengingatkan saya pada kejadian diterbitkannya majalah Playboy di Indonesia dulu. Entah sekarang apakah majalah ini jadi terbit. Yang jelas, inisiator terbitnya majalah ini saya kira punya ketidakpekaan yang sama dengan orang yang berencana mendatangkan Miyabi itu. Mungkin ada yang sinis tentang ini, tapi Indonesia itu kan didominasi oleh semangat religius. Apapun indikasi yang muncul di negara ini yang nampaknya akan memberikan negasi tentang itu, tapi semangat religius itu tidak akan pernah bisa mati. Maka dari itu akan sangat mudah diramalkan sebenarnya, bahwa inisiatif apapun yang kontra-religiositas dalam skala nasional pasti akan berakhir dengan reaksi massa yang menentang.

Sekarang bagaimana kalau kita bayangkan bahwa orang-orang di balik kedatangan Miyabi itu sebenarnya tidak bodoh? Atau sekurangnya saya harus bilang, mereka itu adalah pion dari sebuah rencana terselubung ? Sebuah teori konspirasi ? Saya masih ingat bahwa tidak lama setelah penentangan majalah Playboy dulu, ada reaksi beruntun yang cukup keras diarahkan pada terbitan-terbitan yang berbau pornografi; seperti tabloid panas atau majalah dengan sampul gambar seronok. Apakah kali ini, pada kasus Miyabi, akan ada reaksi domino ke bidang-bidang lain yang menyangkut pornografi ?

Apakah sebenarnya ada upaya untuk memberangus pornografi dengan pornografi ?