synchronicity-jung-lrg_thumb[2] Dari sebuah buku saya mendapatkan sebuah cerita tentang apa yang dialami oleh Carl Gustav Jung, seorang Psikoanalis yang banyak memperhatikan peranan mimpi bagi kesehatan psikis manusia. Suatu ketika ia sedang memberikan konsultasi ke seseorang yang menceritakan mimpinya melihat seekor lebah. Pada saat yang bersamaan, di kaca jendela tempat konsultasinya ada seekor lebah menabrak-nabrakkan dirinya ke kaca. Jung berpikir, apakah ini sebuah kebetulan?

Saya sendiri sejak membaca itu jadi mencoba untuk aware pada hal-hal serupa. Pernah saya sedang menonton channel Metro TV tapi tidak serius karena saya sedang membayangkan sebuah persoalan. Sungguh aneh bin ajaib, saya menemukan ada tayangan kata-kata mutiara yang isinya benar-benar persis menggambarkan apa yang sedang saya bayangkan. Bagaimana mungkin ini terjadi. Lagi, apakah ini sebuah kebetulan?

Saya bisa menulis panjang lebar tentang ini, karena saya sudah cukup lama merenungkannya dan mengalami banyak hal yang berkaitan dengannya. Tapi apa artinya kalau ternyata kita baru bisa menyadari kehadirannya justru ketika kita sedang tidak berharap hal itu datang? Apa pula artinya, dan ini yang sedang saya alami, bila sudah untuk beberapa waktu saya tidak bisa menyadari kehadirannya? Apakah benar-benar sedang menghilang sementara, atau karena sesuatu hal kepekaan saya jadi berkurang?

Gambar sampul buku yang ada pada posting ini saya dapatkan dari search. Saya malah baru tahu kalau Jung pernah secara khusus menulis tentang ini. Isinya pasti sangat menarik. Yang saya baca adalah dari sebuah buku terbitan Gramedia tentang Jung, yang judul persisnya saya sudah lupa.

evolusi[8] Sudah lama terpikirkan tentang apa yang saya sebut ‘jejak-jejak evolusi yang memberi petunjuk pada antrosomatik purba’. Kata ‘antrosomatik’ itu adalah sebuah bentukan yang analog dengan kata ‘psikosomatik’. Kalau psikosomatik berarti menunjukkan ada kaitan antara yang psikologis dengan kondisi fisik tubuh, maka pada ‘antrosomatik’ adalah adanya kaitan antara perkembangan manusia sebagai makhluk hidup dengan apa yang ditunjukkan oleh kecenderungan pada tubuhnya, Entah itu istilah yang tepat atau tidak untuk menggambarkan apa yang saya maksud, tapi saya ingin menunjuk hal-hal seperti: laki-laki akan lebih rentan terkena kanker prostat kalau tidak menikah (alias berhubungan seksual); bahwa perempuan yang terkena kanker rahim biasanya adalah mereka yang tidak menikah (alias tidak pernah melahirkan); juga perempuan yang terkena kanker payudara adalah wanita yang tidak pernah menyusui. Barangkali akan ada lebih banyak lagi, dan akan sangat menarik buat saya untuk menemukan yang lainnya, tapi poinnya di sini adalah, ternyata anggota tubuh manusia itu ada peruntukannya yang spesifik. Ketika seleksi dalam evolusi menghasilkan kenyataan bahwa peruntukan anggota tubuh itu mengalami transendensi, muncullah hal-hal yang menyimpang seperti kanker itu.

Yang lainnya yang masih saya ingat adalah, ternyata passion manusia untuk beragama itu ada justifikasinya pada otak. Saya lupa, tapi ada bagian otak manusia yang membuat manusia jadi cenderung percaya dan membutuhkan Tuhan. Apakah kalau begitu harus dikatakan bahwa seorang atheis atau mereka yang tidak religius itu tidak sekedar pembangkang tapi sebenarnya mereka itu mengalami anomali pada otaknya ?

73667807 Lalu yang pagi ini saya baca di detikhealth; katanya menurut penelitian laki-laki memandangi wanita 43 menit dalam sehari. Studi sebelumnya mengatakan bahwa laki-laki akan lebih sehat bila memandangi wanita, terutama wanita cantik, apalagi kalau bisa berinteraksi dengannya. Bagi laki-laki memandangi wanita cantik adalah sesuatu yang naluriah, tapi sungguh mengejutkan bagi saya bahwa ada penelitia yang bisa menghasilkan kesimpulan itu. Artinya, memandangi wanita cantik adalah sebuah perilaku yang memiliki dasar somatik. Etiket atau pandangan kesopanan umum telah mencegah itu untuk sekurangnya terjadi secara berlebihan, bahkan mungkin malah ada pencelaan pada perilaku itu sebagai mata keranjang, mata jelalatan, dan sebagainya. Ternyata untuk mengatakan itu adalah perilaku tidak sopan adalah sebuah kenaifan. Melakukan itu secara eksesif memang tidak sopan, tapi ternyata ada sesuatu dalam diri kita yang naluriah yang membawa kita untuk melakukan hal itu.

Yang terakhir itu sebaiknya tidak jadi pembenaran, tapi di atas segalanya, membuat jadi penasaran untuk mengetahui hal-hal serupa itu yang lainnya, agar kita bisa lebih fenomenologis terhadap diri sendiri dan tidak terpenjara pada norma, budaya, peradaban, atau batasan-batasan lain yang diciptakan manusia sendiri, yang ternyata malah menambah faktor yang lebih mendorong punahnya manusia.