PARADOXICAL INTENTION

(Migrasi dari tompr2.multiply.com)

Dear, para pecinta
tak pernah sekali-kali
orang di persimpangan meredupredamkan
cembung hasratnya sendiri

Kami telah hitung-hitung itu di setiap kehadiran
dalam detik-mundur-hingga-maut atau perpisahan

Dan kami juga selalu mencatatkan itu,
sebelum nanti mungkin akan disesalkan
di mana orang berada:
antara abraham, sokrates, atau don juan
antara iman, impian, atau perempuan

(kau tak pernah permaklumkan dirimu dulu
pada satu di antara itu)

Mereka bisa melarung ke ujung-ujung mimpi
Bahkan jadi labuhkan segala niat suci
untuk mencinta dan dicintai

Mereka adalah para pemimpi
yang karenanya
mereka ciptakan puisi

Tapi selalu ada yang sama sekali
tak bisa cukup kami mengerti
Mengapa di ujung tangkup pintu pembebasan
cinta, bara-luka, atau ranggas-rindu itu
tak segera saja mereka gegas-genapkan ?

(bukankah setiap jalan keluar itu
adalah pintu?)

sedangkan kuingin, kuingin sekali
segalanya seperti bgini :
"sekali menjadi, sekali berarti
sudah itu kita tak ingat lagi"

sekarang dan di sini
sekarang dan di sini!
sekarang dan di sini!!

(mungkin baru sesudahnya, …. mati)

Lebak Bulus, di dalam hati, 15 Juli 2001

Trackback

no comment untill now

Sorry, comments closed.