DIVA D

(as she sung a poetry)
untuk : D.L.

Aku masih bertanya, apa
yang ‘kan bisa membuatku bersandar
dari perih sebuah prahara dan
kenangan dosa, ketika kukira
kudengar lirih seorang Diva
Dalam gema

Mengapa pada suaramu bisa kurebahkan
hingar kegalauan itu
sedang Aku slalu tak hentinya curiga
terbuat dari apakah hari hingga ia
berlaluan saja luput tak teraih
Apakah itu mati ?
Adakah yang abadi ?

Barangkali karena ada sukma kau hembuskan
ke rabu jiwa siapa yang bisa temukan
rahasia di antara kesementaraan segala,
di balik gemrisik daun, desau hutan cemara,
lolong panjang pagut sepi malam …..
Atau cerita-cerita dari bayangan
orang-orang yang berdetik mata, berpaling muka,
pertemuan, perpisahan
Harubirunya duka

Meski katamu kau berkarya dari luka,
tapi jangan kau tanya mengapa
karena bagiku semua seperti kidung senja
ketika Tuhan titahkan alam ‘tuk jadi temaram

Dan mereka berkata :
Nyanyi … nyanyilah,
Nyanyikan untuk kami dalam hatimu sebuah gita
tentang orang-orang yang merayakan berkah
hanya dengan serpih-serpih haru yang tersisa
Untuknya kami ‘kan pahami kala dirimu kau bawa
singgah ke sunyaruri, dalam senda tawa yang asing,
berpendar di antara pijar penerangan kota,
atau ke perasaan-perasaan lain
yang kami sama belum mengerti.
Di sini dan kini : sebuah Zen ?

Deru waktu adalah alusi tentang living in the fast lane
Seperti katamu :
"Selagi jiwa bisa bebas membuat badai,
Maka kami akan bersorak dalam mahligai"

Ah, usah kau peduli itu,
karena kini :

Aku ingin tak lagi sangsi, apa
yang bisa membuatku damai benar
dari sisa setiap peristiwa dan
ingatan duka, ketika kembali kudengar
lantunan kasih seorang Diva
yang bergema

(Dan kuingin kau selalu ada di sana)

18 Januari 1999

Trackback

no comment untill now

Sorry, comments closed.